Tik tok,
tik tok tik tok,
tik tok tik tok tik tok.
Suara dentang jam tua berbunyi nyaring.
Tunggu,
itu bukan suara jam tua.
Cobalah perhatikan lagi.
Suaranya lebih keras dari itu.
Dan lebih memekakan telinga.
Lalu suara apa?
Katanya,
itu bom waktu yang siap meledak.
Tertanam di dasar perut-perut mereka,
anak-anak kumal itu!
16 Februari 2012
Dan Tirai pun Terbuka #1
08.00
Ayunan langkah kaki ini semakin lemah terasa.
Tak ada tenaga menggelayut dalam jalinan daging merah ini.
Semuanya sudah habis tempo hari.
Dan sekarang hanya bersisa serpihannya.
Semalam,
baru saja dirundung kecewa.
Keinginan di penghujung
satu lagi tak bisa diwujud nyatakan.
Sederhana pasti,
namun belum waktunya terjadi.
Jadilah menyisakan sesak di hulu jantung.
Tak ada tenaga menggelayut dalam jalinan daging merah ini.
Semuanya sudah habis tempo hari.
Dan sekarang hanya bersisa serpihannya.
Semalam,
baru saja dirundung kecewa.
Keinginan di penghujung
satu lagi tak bisa diwujud nyatakan.
Sederhana pasti,
namun belum waktunya terjadi.
Jadilah menyisakan sesak di hulu jantung.
Kebohongan Tempo Hari
"Aku mengerti dirimu lebih dari siapapun".
Itu katamu, dulu.
Tapi,
Jika sekarang aku bertanya padamu,
apa kau benar-benar mengertikanku?
Kupastikan yang kau ucapkan saat itu,
adalah sebuah kebohongan.
Klise dan semu.
Karena kau tidak akan pernah mengertikanku,
sampai kapanpun.
Itu katamu, dulu.
Tapi,
Jika sekarang aku bertanya padamu,
apa kau benar-benar mengertikanku?
Kupastikan yang kau ucapkan saat itu,
adalah sebuah kebohongan.
Klise dan semu.
Karena kau tidak akan pernah mengertikanku,
sampai kapanpun.
6 Februari 2012
Desembye (Hujan Berhenti Terlalu Cepat)
DESEMBYE
(HUJAN BERHENTI TERLALU CEPAT)
By : Nur Muchamad (@NMuchamad)
Dulu, sering kali
kubertanya pada diriku sendiri. Sebuah pertanyaan yang sampai detik ini pun
belum kutemui jawab pastinya. Mungkin karena karena kalimat pertanyaan itu
begitu sulit dicerna, ataukah aku yang terlalu bodoh tidak bisa menemukan
jawabannya, atau . . . Tapi kurasa bukan karena itu. Aaaaah, yang jelas bukan
hanya aku yang dibuat pusing mencari jawaban pertanyaan sederhana ini. Mereka
yang kutanyai, yang kuanggap bisa memberiku jawaban, selalu melontarkan kata
yang sama, “Entahlah”. Kalau boleh jujur, aku selalu dibuat frustrasi bila
teringat dengan pertanyaan ini. “Apakah
aku bisa mengubah takdir hidup yang telah digariskan Tuhan kepadaku?”
Tidak aneh jika selama 30
tahun hidupku di dunia ini, nyaris separuhnya aku gunakan hanya untuk mencari
jawaban pertanyaan yang terdiri dari 11 kata itu. Aku sudah gila? Anggap saja
demikian. Sebab aku juga tidak terlalu mempedulikan apapun perkataan
orang-orang tentangku. Aku hanya sedang berusaha menemukan jati diriku yang
kurasakan telah meninggalkan sosok ini sejak bertahun-tahun lalu. Menyuruhnya
kembali ke tempatnya berpulang dulu, diriku. Tapi sungguh aku tidak tahu kemana
dan sampai kapan aku harus mencarinya. Dunia ini terlalu luas. Di sisi lain
tempatku berpijak sekarang saja, tentunya masih banyak tempat yang belum sempat
kujamah. Dan akhirnya kini, aku hanya bisa bersabar menantikan setiap kata dari
kalimat pertanyaan itu segera menemui jawabannya, sendiri. Pasti.
4 Februari 2012
Platonis #2 (Lovacoustic: Sebuah Cinta Sederhana)
PLATONIS #2
(Lovacoustic: "Sebuah Cinta Sederhana")
Apa yang kuinginkan darimu?
Yang sebenar-benarnya,
yang tiada terselip seutas dusta putih pun.
Yang senyata-nyatanya,
yang tiada terbekas sepotong janji palsu pun.
Apa yang kuinginkan darimu?
Sebenarnya,
dan senyatanya...
Tidak banyak,
bahkan mungkin hanya satu-satunya...
Walau yang kutahui,
dalam kebenaran yang terucap,
dalam jujur yang tersampaikan...
Tidak ada niatan memintanya,
darimu...
Apa yang kuinginkan darimu?
Sudah kubilang,
mungkin hanya satu...
Yang kuinginkan...
DIRIMU, untukku !!!
Itu saja...
Langganan:
Entri (Atom)

